Kongres Pemuda II didirikan
oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda
yang bersifat nasional dan tidak lagi fokus pada daerah tertentu. Ketua panitia
kongres adalah Soegondo Djojopuspito, dengan wakil ketuanya Djoko Marsaid,
sekretarisnya Mohammad Yamin, dan bendaharanya Amir Sjarifuddin. Kongres ini
dihadiri oleh berbagai organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Sumatranen
Bond, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan masih
banyak lagi. Kehadiran berbagai organisasi itu menunjukkan bahwa proses
integrasi nasional di kalangan pemuda semakin berkembang, melebihi batas
identitas daerah mereka.
Pelaksanaan kongres diadakan
dalam tiga pertemuan yang diselenggarakan di tiga lokasi berbeda di Batavia.
Rapat pertama dihelat di Gedung Katholieke Jongelingen Bond (KJB) dan membahas
tentang pentingnya persatuan serta kebangsaan. Rapat kedua di Oost-Java
Bioscoop membahas isu pendidikan dan peran bahasa sebagai alat untuk mengikat
masyarakat. Rapat ketiga dilaksanakan di Indonesische Clubhuis yang terletak di
Jalan Kramat Raya 106, tempat yang kini dikenal dengan nama Gedung Sumpah
Pemuda. Pada sidang terakhir tersebut, rumusan Sumpah Pemuda diucapkan. Menurut
Sartono Kartodirdjo, momen tersebut menunjukkan munculnya nasionalisme
Indonesia yang sudah tidak hanya bersifat etnis atau daerah, melainkan telah
berkembang menjadi nasionalisme modern yang didasari oleh kesadaran politik
bersama.
Rumusan Sumpah Pemuda dibuat
oleh Mohammad Yamin dan diucapkan oleh Soegondo Djojopuspito. Isi perjanjian
tersebut menggarisbawahi pengakuan terhadap satu tanah air, satu bangsa, serta
menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. M.C. Ricklefs dalam
buku Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 menjelaskan bahwa penggunaan kata
"bahasa Indonesia" menggantikan "bahasa Melayu" memiliki
makna politis yang sangat penting, karena menunjukkan keinginan untuk membangun
identitas nasional yang inklusif dan tidak hanya terkait dengan satu kelompok
etnis tertentu. Selain membacakan Sumpah Pemuda, pada saat penutupan kongres
pertama kali, lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman
digunakan dan diperdengarkan dengan dibawakan oleh biola, sehingga menambah
semangat rasa kebangsaan.
George McTurnan Kahin dalam
bukunya Nasionalisme dan Revolusi Indonesia mengatakan bahwa Kongres Pemuda II
adalah langkah penting dalam membentuk identitas nasional Indonesia sebelum
kemerdekaan. Ia menekankan bahwa kesadaran nasional yang muncul dari kalangan
pemuda yang berpendidikan menjadi dasar penting dalam perjuangan politik di
dekade berikutnya. Poesponegoro dan Notosusanto juga menyatakan bahwa hasil
dari kongres ini bukan hanya bersifat simbolik saja, tetapi memiliki dampak
nyata dalam mempercepat proses integrasi nasional dan memperkuat arah
perjuangan menuju kemerdekaan.
Dari sisi sejarah, Kongres
Pemuda II menandai munculnya kesepakatan bersama para pemuda untuk menempatkan
kepentingan negara di atas kepentingan daerahnya masing-masing. Keputusan untuk
menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan menjadi bagian penting
dalam proses membangun bangsa Indonesia. Peristiwa ini menunjukkan bahwa rasa
cinta tanah air di Indonesia semakin berkembang karena adanya pembicaraan,
perdebatan, dan kesadaran bersama yang terbentuk secara perlahan. Kongres
Pemuda II bukan hanya sekadar pertemuan antar organisasi pemuda, tetapi juga
menjadi momen penting dalam menyebarkan ide-ide yang memperkuat persatuan
bangsa dan menjadi salah satu pondasi penting dalam perjalanan menuju
Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945.
Daftar
Pustaka
Kahin, George McTurnan. 1995. Nasionalisme
dan Revolusi Indonesia. Jakarta: UNS Press.
Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan
Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.
Poesponegoro, Marwati Djoened &
Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid V.
Jakarta: Balai Pustaka.
Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi.

Komentar
Posting Komentar